Sekolah Menjadi Bagian Solusi Permasalahan Lingkungan

3R (Remind, Redesign, Reorganize) Proses Pembelajaran

PENDIDIKAN INDONESIA

Selama ini, sekolah sebagai tempat pembelajaran yang diharapkan untuk menjadi potensi dalam menciptakan generasi-generasi yang dapat memecahkan masalah-masalah disekitar mereka malahan menjadi tempat menciptakan generasi-generasi sumber masalah baru. Hal ini disebabkan oleh pelaksana pembelajaran sekolah (guru-guru di Indonesia) telah terjadi berubahan makna dari arti pendidikan (educating), hanya menjadi sekedar pengajaran (teaching) dan pelatihan ketrampilan (training-soal dan hard skill). Dunia pendidikan saat ini telah berubah menjadi sebuah industri komerisialis dan pencetak siswa yang pintar menghafal serta menyelesaikan soal-soal mata pelajaran (“cerdas akademis”??). Bukan lagi menjadi tempat pembelajaran siswa untuk membangkitan kesadaran kritis, berfikir kreatif, berfikir secara analisis, berfikir secara integratif, dan memecahkan masalah.

 

Seperti yang telah banyak diberitakan pada beberapa media setelah pengumuman hasil ujian nasional tentang banyaknya siswa yang gagal di Ujian Nasional (UN) karena kesulitan (kalau tidak mau disebut gagal dalam pembelajaran siswa) pada materi berupa soal cerita yang memerlukan ketrampilan analisa dan logika mereka, meskipun siswa-siswa tersebut pada kesehariannya merupakan siswa yang “cerdas akademis.” Ini menimbulkan pertanyaan dalam diri saya, apakah ada yang salah dengan dunia pendidikan kita ?

 

Sekolah-sekolah telah banyak yang tercengkram dengan sistem struktural dan administrasi yang kuat sehingga menciptakan sekolah-sekolah yang memburu kebanggaan semu dengan merasa bangga jika sekolah telah meluluskan 100% siswanya, sekolah telah menyandang sekolah bersertifikat ISO dan bahkan sekolah yang berpredikat Sekolah Bertaraf International-SBI (bagi saya maknanya adalah Sekolah Berbayar Internasional = MAHAL). Apakah salah dengan sekolah yang berburu kebanggaan ini ? Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Akan tetapi hal ini akan membuat jurang pemisah antara kelas khusus dengan kelas biasa yang memisahkan dan membedakan ruang kreatifitas dan pendidikan bagi peserta didik yang berkeadilan secara keji dan mengerikan.

 

Juga masih banyak saya temui guru-guru yang mengajar di sekolah hanya berorientsi buku teks (textbook oriented) agar peserta didik lulus dalam Ujian Nasional (UN), tetapi mengabaikan pengembangan diri peserta didik dan lingkungan sekitar mereka. Apa bedanya sekolah dengan Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) yang ada….?? Pola pendekatan pendidikan yang demikian (textbook oriented) telah “mencerabut” siswa dari lingkungannya dan hanya akan menghasilkan individu yang “cerdas akademis” namun tidak peduli akan keberlanjutan keberadaan dirinya, komunitas masyarakatnya, sistem sosialnya, sistem ekonominya, kebudayaanya, dan lingkungan alamnya. Memang terlihat mudah mengajar dengan cara tersebut, namun apakah mengajar dengan cara tersebut terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efesien bagi guru dan utamanya peserta didik ? Peran guru bukan hanya mentrasfer informasi ke peserta didiknya akan tetapi membimbing dan memotivasi peserta didik untuk menemukan sendiri segala hal dengan informasi atau pengetahuan yang telah mereka miliki.

 

Setiap siswa adalah berbeda, unik dan spesial bahkan untuk anak kembar sekalipun. Setiap manusia belajar dengan cara berbeda karena faktor keturunan, pengalaman, lingkungan atau kepribadiannya. Dalam proses pembelajaran peserta didik, hendaknya guru dapat mengakomodasi segala perbedaan dan kunikan peserta didik sehingga tidak ada peserta didik yang tesisihkan atau tertinggal dalam proses pembelajaran (Guru berperan sebagai Mentor, Kolaborator, Fasilitator, Inspirator dan Reflektor). Ketika guru mengenal perannya dan paham akan peserta didiknya akan memudahkan mereka dalam membuat proses rencana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik.

 

Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang kompleks (Pembelajaran Emotional, Sosial, Kognitif, Fisik dan Reflektif) sehingga guru harus memberikan pembelajaran yang bermakna. Artinya guru harus dapat menghubungkan apa yang dipelajari dengan kegiatan sehari-hari peserta didik dan bagaimana mengajarkannya dengan kehidupan sehari-hari peserta didik dan keluarganya. Dengan sistem pendidikan apapun yang akan dilakukan di Indonesia, ternyata tidak akan hanya cukup dengan banyak memberikan pencerahan dalam menjalankan proses pembelajaran pendidik. Sementara para pendidik Indonesia masih banyak yang duduk manis dibelakang meja dan tidak mau mengembangkan metode-metode pembelajarannya bagi peserta didiknya.

Dalam upaya untuk mengembangkan proses pembelajaran di sekolah dan membantu para pendidik mengembangkan proses pembelajaran ini sebenarnya bola sudah berada ditangan yang sudah terpayungi hukum (permendiknas no. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, No. 23 tentang Standar Kelulusan dan 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi) dan diberi kebebasan dalam proses pembelajarannya. Tetapi apakah para pendidik sudah paham akan hal tersebut, jika belum maka mereka Dzolim terhadap profesi mereka sebagai pendidik.

 

Oleh karena itu kita sebagai pendidik seharusnya dapat mengembangkan potensi peserta didik kita dengan 3 R (Remind, Redesign dan Reorganize) proses pembelajaran kita.

Remind Otonomi Pendidikan, bahwa dengan otonomi pendidikan yang telah diberikan dan mendudukkan satuan pendidikan beserta pendidik, tenaga kependidikan, serta peserta didiknya menjadi subyek yang mandiri, akuntabel, kreatif, inovatif, dan berkewirausahaan.

Redesign KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan): para pendidik diberi ruang yang sangat bebas dalam mengembangkan kurikulum berdasarkan perbedaan potensi peserta didik dan ketersediaan sumber daya di sekitarnya sehingga kurikulum ditiap sekolah dapatlah sangat beragam.

Reorganize Pembelajaran Kontekstual: pengembangan minat, bakat, dan potensi sumber daya di lingkungan sekitar yang akan menjadi faktor penentu tujuan pembelajaran peserta didik. Dimana akan membantu peserta didik untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga peserta didik memiliki pengetahuan/ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi diri sendiri secara aktif pemahamannya yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran berjalan berimbang sekaligus memberikan alternatif solusi permasalahan lingkungan hidup dan pendidikan Indonesia.

 

Dari pengalaman saya beraktifitas dengan pendidik dan peserta didik, banyak pembelajaran yang saya peroleh dari mereka ketika saya menggunakan permasalahan lingkungan sekitar mereka sebagai salah satu media pembelajaran, beberapa diantaranya;

Membuat siswa dan pendidik lebih antusias dan inovatif,

Permasalahan lingkungan sekitar sekolah sebenarnya telah menawarkan cara memperkaya bagi siswa dan guru untuk menghubungkan apresiasi mereka dari lingkungan untuk proses pembelajarannya. Karena siswa dan pendidik sangat paham akan kondisi lingkungan sekitar mereka, maka siswa akan mudah tertarik serta antusias dalam proses belajar yang akhirnya mereka termotivasi untuk prestasi akademis mereka. Sedangkan untuk pendidik juga lebih antusias tentang bahan ajaran mereka serta membawa strategi pembelajaran yang lebih inovatif ke dalam kelas yang akhirnya dapat mencetak generasi-generasi yang lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Membuat sekolah menjadi bagian solusi permasalahan global,

Siswa dan pendidik memiliki kesempatan setiap hari untuk mengasah kemampuannya dalam memecahkan masalah lingkungan disekitarnya dan menggunakannya sebagai laboratorium pembelajaran interdisiplin. Kondisi ini memungkinkan terjadinya proses berpikir kritis dan analisis siswa yang meletakkan dasar untuk membangun keterampilan dalam pemecahan masalah serta memahami tantangan dunia nyata. Kondisi ini juga memungkinkan pilihan siswa untuk berperan aktif dalam masalah tertentu yang harus dipecahkan serta membantu dalam membuat hubungan dan membina kelompok belajar mandiri dan kooperatif. Sebagai contoh, SMAN 1 Wringinanom (Kompas, 31 Desember 2009) meluangkan waktu untuk menggunakan permasalahan sungai Surabaya sebagai topik pilihan mereka. Dari merancang sebuah kegiatan untuk adopsi bantaran, memantau sungai sampai tentang dokter sungai yang baru-baru ini Sumarlina (siswi SMAN 1 Wringinanom) mendapat penghargaan dari bapak Emil Salim (Kompas, 25 Oktober 2010)

 

Pada akhirnya kita harus mulai mengembalikan makna pendidikan itu sendiri bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir, daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki peserta didik. Perubahan pada guru dalam proses pembelajaran adalah kunci agar keterpurukan generasi yang dimiliki bangsa ini tidak berlanjut dan menjadikan Indonesia dapat berdiri dengan kaki sendiri diatas negara yang bergelimang sumber daya alam berlimpah ini.

Andreas Agus Kristanto Nugroho

Education and Resarch Program


 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s