Bayer Young Environmental Envoy, Indonesia

Bayer Young Environmental Envoy, Indonesia

The BYEE Program now in its 8th year in Indonesia
If you are an Indonesian citizen, between 18 to 24 years old, single, and presently enrolled in a college/university, and with a passion for the environment, take up the challenge to become a Bayer Young Environmental Envoy! 

Deserving students from all over Indonesia will be selected to be Bayer Young Environmental Envoys (BYEE) and will participate in a live-in Eco-camp that is held in a local venue. The top two envoys will join youth delegates from 18 other countries around the world on a weeklong all-expense paid trip to Germany on October 16 – 21, 2011. It will be an opportunity to gain new insights on the broad spectrum of environmental protection measures employed by industry, municipalities, and the state environmental authorities in Germany.

Who is eligible
 

  • Indonesian citizen, College/University student enrolled in any institution as of April 1, 2011 (students graduating in April 2011 are eligible to join)
  • 18 to 24 years old by September 1, 2011
  • Actively involved in environmental activities or projects
  • Willing to travel overseas
  • Should be able to work well within a group
  • Good oral and written English communications skills

 

Children and relatives up to the second degree of consanguinity, or persons, whether they are related or not, living with any of the following are not eligible to join the contest:
 

  • Employees of Bayer, their agencies or independent contractors engaged in the project
  • Individuals or companies engaged in the development, production, or distribution of materials for the project

 

How to join
Financial crises and economic downturns spell tough times for the environment. Safeguarding the planet at a time of economic recession is often seen as a luxury, and at times, a burden on economic recovery and development. On the other hand, reality has shown that the Earth itself is what ultimately controls economic activity because it is the source of the materials upon which economic activity works. 

Write your individual proposal, therefore, for a simple environmental project in your community or school which demonstrates that environmental protection and economic growth can go hand in hand.

 

  • In no more than 100 words, describe the current situation and environment related problems in your local area or school.
  • Name a few practical solutions to the problem that either government/industry/NGOs or your school/community has so far carried out.
  • Draw up a personal project you intend to do to help alleviate this problem, and state your objectives and deliverables.
  • Indicate resource requirements like budget, manpower, facilities, as well as institutions/groups involved, making sure that all necessary resources are within your reach. Compare resources and costs with the benefits you expect to gain.
  • In no more than 200 words, say how this project can be beneficial for both the economy and the environment. Explain also why your environmental project makes economic sense.

 

Procedures and rules
 

  • Fill out the application form and attach a 4×6 cm color photo of yourself.
  • Attach the following documents: certificate of cumulative GPA (IPK, minimum 2.5) from your institution, copies of identification card (KTP/SIM), and proof of environmental award (if there is any) received.
  • All entries must be accompanied by a project proposal. Incomplete application form and entry requirements will not be processed.
  • Secure the endorsement of a faculty member OR the school academic department head OR college/university dean OR academic vice-president OR president.
  • All applications should reach Bayer by May 12, 2011.
  • Project proposals must be written in English and double-spaced. Handwritten or e-mail entries will not be accepted.
  • Project proposals, which are adaptations/upgrades of already existing projects are acceptable, but the entry will be judged solely on the basis of new elements introduced and their added value. Pre-existing work or accomplishments prior to the official start-up date will not be given any credit.
  • Successful finalists shall be asked to begin implementing their respective projects by June 11, 2011. A premature start of the proposed project will be grounds for disqualification.
  • While the project proposal should be the applicant’s own concept, the project itself may be carried out by any number of people, with the applicant taking significant role in its implementation.
  • The project must be completed or come close to completion by September 8, 2011.
  • The judges’ decision is final for all aspects of the competition.

 

Judging and selection
 

  • Applicants will be shortlisted based on the content of their project, leadership and environmental know-how and involvement.
  • A panel of judges will interview each of the shortlisted candidates to determine their intelligence and understanding of environmental issues, their communication and people skills, as well as the feasibility of their project proposals.
  • Shortlisted candidates will be interviewed. PT Bayer Indonesia will bear all costs for the travel, meals, and accommodations of shortlisted candidates going to the interview.
  • Successful applicants who qualify for the final round will be required to attend an environmental live-in workshop called the BYEE Eco-Camp. All charges for the travel, accommodations, and upkeep of participants will be shouldered by PT Bayer Indonesia.
  • At the end of the Eco-Camp, the finalists will be asked to make a presentation before another panel of judges. They will be given the formal title of Bayer Young Environmental Envoy at an awarding ceremony.
  • Two of these finalists will be declared as the Top 2 Bayer Young Environmental Envoys and will be given the opportunity to participate in a weeklong all-expense paid study trip to Germany on October 16 – 21, 2011.

 

All applications should reach Bayer by May 12, 2011

Please read the application form thoroughly. Online or e-mail applications will not be accepted and only complete application forms will be considered.

Applications should be sent to:
Corporate Communications
PT Bayer Indonesia
MidPlaza I, 12th Floor
Jl. Jendral Sudirman Kav. 10-11
Jakarta 10220

http://www.bayeryoungenvoy.com/en/Indonesia.aspx

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Satu hati Untuk Kali Brantas

Satu hati Untuk Kali Brantas
Kata Amirudin Mutaqin” anak-anak sudah habis kesadaran melihat perilaku serakah para generasi tua, menghabiskan sumberdaya alam kali Brantas” LEBAY
Sepuluh Tahun terakhir bagai teriris-iris hati kami, pilu melihat nasib Kali Brantas. Tiap hari 350 ton limbah cair digerojokkan oleh lebih dari 400 industri di DAS Brantas, ikan mati massal akrab menjadi berita di Koran, Kami juga sering membaca keluhan PDAM Kota Surabaya yang kesulitan mengolah air bakunya, bahkan menurut ecoton Kali Surabaya telah berubah menjadi WC umum. Kami juga mengikuti kabar bahwa Hulu Brantas telah banyak beralih fungsi yang semestinya kawasan lindung atau daerah tangkapan air berubah menjadi hotel, villa, pertanian, perkebunan dan kawasan terbangun lainnya, sehingga yang kami rasakan saat ini adalah semakin sulitnya mendapatkan air bersih, bahkan di daerah hulu seperti kami yang tinggal di Wonosalam. Contoh konkret penderitaan hulu Brantas adalah menyusutnya mata air di Batu dari 111 pada tahun 2000 kini hanya tinggal 56 titik mata air. Di Jombang, Kediri dan Mojokerto banyak diberitakan dan kami ketahui sendiri amblesnya jembatan Mritjan Kediri , bergesernya jembatan Semampir Kediri dan jembatan Jl gajah mada Mojokerto akibat maraknya aksi liar penambang pasir dengan pontoon, jutaan meter kubik pasir dikuras, dikeruk dan disedot siang, malam dan dini hari. Kami juga merekam rusaknya tanggul-tanggul dan punahnya ikan-ikan yang berdomisili di Dasar Brantas. Penegakan hukum seperti lagu lama yang sering diputar berakhir dengan kemenangan para pemilik uang dan mengorbankan nasib Brantas. Kali Brantas butuh kisah baru, kali Brantas butuh cinta butuh kasih dan Welas asih.
Kami tak tega melihat Kali Brantas terus teraniayah, bagai hidup diantara manusia tanpa hati dan tanpa cinta.

Dengan berbekal kasih kami membentuk Brantas community. Brantas community merupakan Jaringan gerakan kepedulian terhadap kondisi kali Brantas yang dilakukan oleh anak – anak muda di wilayah yang di lalui oleh DAS Brantas. Didorong rasa prihatin kami atas semakin menurun kualitas dan kuantitas air Kali Brantas, kami mengambil inisiatif membuat sebuah gerakan yang dilakukan bersama – sama anak muda yang ada di sepanjang DAS Brantas lainnya untuk menyelamatkan masa depan Brantas mulai dari Hulu sampai hilir. Dengan satu hati kami memulai gerakan ini:
1. Wilayah Hulu ( Malang & Batu ) :
Kami anak-anak hulu merasakan semakin berkurangnya sumber-sumber mata air dan seringnya daerah kami yang tergenang banjir dan tanah longsor di Pujon. Kini kami sedang melakukan projek penyelamatan sumber air di daerah hulu yang merupakan daerah tangkapan air dengan memperkaya biopori dan juga resapan di sekolah – sekolah. Kami ingin menampung air hujan sebagai pemasok sumber air di kawasan Brantas. Kami SMPN 1 Bendosari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang dan SMAN 2 batu, bekerja satu hati menjaga dan menyelamatkan mata air yang tersisa.
2. Wilayah Tengah ( Jombang ) :
Ada 11 sekolah yang tergabung dalam jaringan pelajar peduli Brantas yang di training oleh ecoton sebagai kader pemantauan kualitas air brantas di wilayah mereka masing – masing. Kami SMPN 1 Wonosalam saat ini berusaha menyelamatkan Sumber air brantas di wilayah kaki gunung Anjasmoro, kami membuat Kelompok yang kami beri nama POLISI AIR bertujuan untuk menyelamatkan dan menjaga sumber- sumber air di daerah Wonosalam, kami melakukan pemantauan rutin keanekaragaman serangga air yang menunjukkan bahwa kualitas air dihulu dalam kondisi tercemar ringan. Di Madrasah Aliyah Faser Panglungan Wonosalam Jombang membentuk kelompok untuk mengadopsi dan mengamankan 2,5 Hektar hutan di Sumber beji yang masih alami dan mempunyai mata air yang dimanfaatkan masyarakat desa setempat untuk di jadikan laboratorium Alam sekolah, kami juga sudah mengidentifikasi jenis-jenis tanaman diradius 200 meter sekitar mata air, ada 44 mata air di kecamatan Wonosalam yang menunggu untuk diselamatkan, dengan hati dan cinta. Kini kami menginisiasi POLA KEMITRAAN PELESTARIAN MATA AIR yang melibatkan Sekolah kami, BLH Jombang, Pemerintah Desa Panglungan dan Wonosalam untuk memantau kelestarian mata air.
3. Wilayah Mojokerto :
Patroli sepeda rutin merupakan kegiatan rekan-rekan kami di SMPN 2 Jetis Mojokerto yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat di sepanjang rute patroli mereka dengan himbauan dan ajakan melalui leaflet –leaflet sosialisasi lainnya. Dalam patroli ini mereka melakukan monitoring kualitas air dan juga pendataan kualitas tanggul, potensi kali Surabaya dan masalah yang mereka temukan di sepanjang patroli. Setiap seminggu sekali setidaknya 30 anak dengan semangat satu hati untuk brantas dalam kegiatan ini untuk menyusuri Kali Surabaya yang berada di wilayah mereka Mlirip-Jetis.
4. Wilayah Gresik :
Lima tahun terakhir teman-teman kami di SMAN 1 Wringinanom yang biasa disebut sekolah ndeso karena adoh lor dan adoh kidul dengan semangatnya telah banyak membuat perubahan bagi kelestarian Bantaran/Stren Kali Surabaya di Kecamatan Wringinanom. Mereka telah membentuk Kelompok Garda Brantas, sensus serangga Air, dokter sungai, Adopsi bantaran yang kini telah berhasil mensterilkan 8 Km bantaran dari alihfungsi kawasan lindung. kami pelajar SMAN 1 Driyorejo saat ini memberikan contoh pengelolaan bantaran dengan model small farming food security, dengan semangat satu hati, kami ingin agar pemanfaatan bantaran dikembalikan pada fungsi konservasi dan memanfaatkan bantaran sungai sebagai lahan untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan penunjang, gerakan ini kami lakukan antara lain sebagai antisipasi terhadap makanan yang kurang sehat yang biasa di konsumsi pelajar di sekolah. Dilandasi rasa cinta pada sungai sejak tahun 2009 kami mengumpulkan surat cinta untuk gubernur agar memberikan kasihnya pada kali Surabaya , kini telah terkumpul 1000 surat cinta dari pelajar untuk Pak De Karwo, kami berharap masih ada satu hati Pak De karwo untuk Kali Surabaya dan Kali Brantas
5. Wilayah Hilir ( Surabaya & Sidoarjo )
Sebagai daerah yang paling banyak terkena dampak pencemaran dan kerusakan di Kali Brantasnya tidak membuat diam kami, anak – anak muda di wilayah ini kini mengembangkan Brantas Community sebagai jembatan penghubung komunikasi antara anak muda yang ada diwilayah Hulu, tengah sampai Hilir tentang permasalahan dan perkembangan penanganan Kali Brantas di wilayah mereka masing – masing, kami sadar bahwa untuk bisa menyelesaikan masalah kali brantas tidak bisa dilakukan sepotong – potong dan di setiap wilayah masing – Masing, tetapi perlu adanya kerjasama antara anak – anak muda yang ada di sepanjang DAS Brantas untuk mengkampanyekan dan membantu penyelesaian kali Brantas secara keseluruhan. Melalui website http://brantas-community1.blogspot.com yang dibangun anak – anak muda di jurusan Komunikasi UPN ‘ Veteran “ Jawa timur. Dengan semangat satu Hati kami berharap situs ini bisa menjadi media komunikasi Online bagi pergerakan anak muda untuk menyelamatkan kali brantas.
Sekarang sudah saatnya anak – anak muda mendapatkan peran dalam penyelesaian masalah di Brantas, kami merasakan generasi tua saat ini terlalu banyak mengeksploitasi brantas.
Semua yang telah kami lakukan adalah bentuk bertanggung jawab kami bagi kelestarian Kali brantas, Kami merasakan generasi tua telah kehilangan hati, menghancurkan warisan kami, mengeksploitasi Kali Brantas. Kami anak-anak muda yang tergabung dalam Brantas Community, dengan satu hati, meminta Pak De Karwo, Gubernur Provinsi Jawa Timur:
1. Memprioritaskan upaya pemulihan Kualitas Kali Brantas dan Kali Surabaya.
2. Membentuk kemitraan Pelestari Kali Brantas yang beranggotakan sekolah – sekolah dan Biro Sumber daya Alam, yang didalamnya terdapat :
- pos pengaduan tanggap darurat Kali Brantas.
- Memfasilitasi kegiatan Brantas community sebagai jaringan pelajar peduli brantas di Jawa Timur dalam upaya menjaga kelestarian Kali Brantas, membangkitkan kecintaan pelajar pada Kali Brantas dan meningkatkan pemahaman pelajar tentang pentingnya Kali Brantas.
3. Melakukan sosialisasi, Training dan pemaparan program – program pemerintah terkait upaya pemulihan Ekosistem Kali brantas kepada Brantas Community.
4. Melakukan upaya Rehabilitasi kawasan resapan dan daerah tangkapan di sekitar mata air di wilayah Wonosalam Jombang sebagai salah satu sumber penting Kali Brantas dengan menghijaukan kembali dengan pohon-pohon kemiri, iprik, bendo, aren dan bambu yang selama ini terbukti mampu mengamankan cadangan air.
5. Mengembalikan kawasan Bantaran Kali Brantas dan Kali Surabaya menjadi kawasan lindung dan daerah tampungan luapan air badan air sungai, sehingga perlunya upaya sterilisasi bantaran sungai dari bangunan, sehingga dapat meminimalisasi ancaman bantaran kali menjadi WC umum.
6. Mencanangkan program adopsi Bantaran Kali Surabaya dan melakukan penghijauan kawasan bantaran sungai Brantas dan Kali Surabaya dengan tanaman Buah (mangga,Juwet, Jambu Biji, nangka) tanaman Kemiri, Sengon, Salam dan Rosella
7. Melibatkan Sekolah dalam kegiatan pemantauan kualitas lingkungan DAS Brantas ( Kualitas air, kuantitas mata air, keanekaragaman hayati) dan menjaga kelestarian sungai, dengan senang hati kami mengijinkan untuk mengadopsi program-program Brantas Community, yaitu : Membentuk polisi air, Patroli sepeda, Dokter sungai, Carbon Bank bantaran, Hutan Tani Bantaran, Sensus serangga air, Surat Cinta Untuk Brantas, River Deffender, Garda brantas, small farming food security, ekowisata Sungai, Penjaga Mata Air dan pendokumentasian keanekaragaman hayati tanaman mata air
8. Menjadikan Masalah DAS Kali Brantas sebagai Muatan Lokal bagi sekolah SD , SMP dan SMA di sepanjang DAS Brantas.
9. Membangun pusat informasi Kali Brantas yang berisi tentang info kali brantas dan dapat di akses dengan mudah bagi masyarakat Jawa timur.
Demikian Surat Permintaan kami, Kali Brantas bukanlah warisan nenek Moyang melainkan titipan generasi yang akan datang. Kami berharap masih ada satu hati untuk memenuhi permintaan kami.

Hormat Kami,

Amirudin Mutaqin
Koordinator Pusat

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Lets Make Our Education More CONTEXTUAL

Lets Make Our Education More CONTEXTUAL
EES program is characterized by exploration of the local community and natural surroundings, hand on experiences of environmental discovery and problem solving to develop ability, the way of thinking, logic, and creativity of Teenager/student K12 and community
EES Program (Education For Environmental Solution). EES program is characterized by exploration of the local community and natural surroundings, hand on experiences of environmental discovery and problem solving to develop ability, the way of thinking, logic, and creativity of Teenager/student K12 and community. This program is not an extra subject for teachers, pupils and local community to study, but it is a way for teachers, Teenager/student K12 and local community to colaborate and approach the existing school curriculum with the local environment problems and local wisdom as a “door to enter the real world-environmental problem” to increase pupils and local community understanding of environment; stimulate critical and creative thinking; develop ability to make informed decisions on environmental issues; and to take responsible action on behalf of the environment.

Our years of working with different groups of schools, We saw that the EES Program give the opportunity to:
Find out differences and discrepancies between real life situation and information/theory given at school
Learn about life which is not taught at school
See the interconnection and overlapping between one subject to another
Find out the benefit and how to make use of the theory taught at school in real life
Learn critical thinking by addressing problems in real life, analysing and look for solutions
Learn working as team or community
Teachers are encouraged to find answers or to respond on the discrepancies between theory/text book information and real life. Teachers may need to alter and/or correct the information on the book
A new situation where teachers are expected to learn together with the pupils to access and address new information, deal with differences of opinion. It requires teachers to learn new
skills to accommodate active learning

However, our endeavor to introduce EES Program is not without problems. We were confronted by:
a. The dense curriculum made EES harder to be integrated.
b. Learning-teaching process at schools still focus in achieve good grade and pass the national exam.
c. Teachers haven’t been able to connect between the learning process and curriculum materials with their local conditions.
d. Teachers can’t be a good facilitator, change pupils from object into subject in learning process.
e. Pupil’s learning process focus more on the hard skills (memorization and hand skills) than soft skills (Thinking skills).
f. Some teachers are hesitant to change to more active learning and see it as only adding extra burden.
g. Some teachers are not well equipped to address new situation/information which is not in the text book.

It is a great challenge for us to encourage and collaborate (local community and teachers) to using their creativity to explore local potentials (local environmental problems) to be used as local sources, to participate in decision making and being part for giving environmental solutions, both locally and globally, which promotes a more equitable and sustainable world.
For 2011 we will implementation EES program at Wonosalam district. The Aim is to secure the water springs of the Brantas River upstream (Wonoslam Distric) in East Java in order to protect biodiversity and improve the water supply for Brantas River. The springs in the targeted regions are the sources for mainly Brantas and Surabaya River that run through most of east Java and are used not only as drinking water source but also for irrigation and hydro-electric power by approximately 17 million people. In order to achieve integrated Brantas River management, the project focuses on the collaboration of all the stakeholders in joint actions, increasing community awareness and involvement as well as promoting the economic benefits of sustainable use of its natural resources.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Melalui Pendidikan Lingkungan Selamatkan mata Air Wonosalam

Melalui Pendidikan Lingkungan Selamatkan mata Air Wonosalam

Wonosalam memiliki potensi semberdaya alam yang mengagumkan, perpaduan antara keanekaragaman hayati dan  keramahan masyarakat setempat menjadikan wonosalam tempat yang menarik untuk dijadikan kawasan rekreasi dan peristirahatan.

Selain menyimpan keanekaragaman hayati Wonosalam juga menyimpan 48 titik mata air yang sangat penting bagi warga Wonosalam dan Kali Brantas.  Ditengah potensi inilah lahir sebuah perkumpulan Wonosalam Lestari yang ingin melakukan upaya-upaya konservasi untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan terjaganya potensi 48 mata air di Wonosalam. Menurut Drs Sumarsono MM selaku penggagas berdirinya Wonosalam Lestari ini menyatakan bahwa  Kegiatan penyelamatan hutan dikawasan Wonosalam adalah kunci aktivitas perkumpulan Wonosalam Lestari, karena saat ini kondisi hutan di Wonosalam sudah banyak mengalami penggundulan akibat illegal logging dan alihfungsi lahan.” Kawasan Wonosalam adalah daerah penting bagi Brantas karena menjadi sumber mata air bagi Kali Brantas,” Ujar Sumarsono.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa saat ini diperlukan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat melalui sarana pendidikan dan pelatihan-pelatihan praktis kepada masyarakat untuk ikut menyelamatkan lingkungan sebagai antisipasi krisis air dan pemanasan global. “Act Locally, Think Globally, berfikirlah Global dan bertindaklah untuk perbaiki lingkungan disekitarmu dengan memulai dari diri sendiri,” Ujar Sumarsono.

Pendidikan Lingkungan

Wonosalam Lestari  adalah kelompok Swadaya masyarakat yang ingin ikut serta dalam upaya penyelamatan lingkungan, pelestarian hutan dan konservasi sumberdaya air di Wilayah Wonosalam. “Kami ingin berbuat sesuatu untuk melestarikan hutan Wonosalam melalui kegiatan Kajian potensi sumberdaya alam dan pendidikan lingkungan yang mengajak masyarakat untuk mempelajari alam, membekali mereka dengan ketrampilan konservasi dan selanjutnya akan terbangun upaya  mandiri masyarakat untuk menyelamatkan Hutan, Sumber air dan Kekayaan hayati di Wonosalam,” Ujar Amirudin Muttaqien ST motivator Wonosalam Lestari. Kegiatan Wonosalam lestari terfokus di Dusun Wonosalam desa Wonosalam di areal lahan 2 Ha ini menyediakan sarana training centre lingkungan hidup, sarana menginap, ruang belajar dialam, dan ruang seminar yang mampu menampung 50 peserta. Materi utama yang diberikan kepada peserta adalah konservasi air dan metode pemantauan kualitas air dengan menggunakan serangga.

Training pemantauan kualitas air rutin dilakukan setiap 3 bulan sekali, minggu lalu Wonosalam Lestari melatih 40 Kader penyelamat Brantas yang datang dari batu, Jombang, Mojokerto, Kediri dan Gresik,” Ujar Amirudin, lebih lanjut ia menyatakan bahwa Wonosalam Lestari juga akan melaksanakan beberapa Training lingkungan pada tahun 2010 ini diantaranya : training pengolahan sampah mandiri yang akan diikuti oleh Kader-Kader pengelolaan Sampah Mandiri binaan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Gresik, Training Penelitian tumbuhan pangan dan tumbuhan obat untuk Mahasiswa dan training peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemantauan kualitas air. “Nantinya Training Centre Wonosalam Mandiri akan dilengkapi dengan sarana komposter mandiri, perpustakaan lingkungan dan kebun pembibitan,” Ungkap Amirudin

Sampingan | Posted on by | 1 Komentar

Children expression to save river

Every individual has the right to basic health knowledge and health care.For that, space should be opened for children to be able to see alternative pathways to live.developed more an more at the next stage of their life so they expected to have bigger awareness to protect their environment at earlier stage.

1. Background

Surabaya River is main source of raw water for regional drinking water supply company. The water of Surabaya River was polluted by heavy metals and this heavy metal pollutants could be accumulated in the estuarine of Surabaya East Coast. Heavy metal poisoning puts children in the higher risk and it can seriously impair normal development. Our children are specially at risk. Their growing bodies are more vulnerable to be harmed by the environment pollution. Small amount of water pollution that may have little or no influence in adult¡¦s health can make children, especially newborn, will be seriously ill. Children are not little adults. Children are at greter risk than adult for exposure to and possible illness from enviromental hazards due to their immune system to detoxify substance is not fully developed; in turn it will have impact on children due to their greater sensitivity during development and growth process.
At the estuarine of Surabaya River, 80 % children at first and second grade at elementary level were categorized as slow learner student (Yuliandari, Triwijati & Suhardono, 2000). This condition linked with the food they consumed much i.e fish that contaminated by heavymetal pollution. According to BTKL (1997) the fishermen and their family have risk to be contaminated by heavymetal 7,8 times greater than non-fisherman does, The fish that they consume is contaminated with heavy metal such as; cadmium, plumbum and mercury. The enviromental effects on enviromental degradation cause lowered learning capacity as a result of lead exposures cannot be reserved no matter how high the future investment to improve it.
The UN Convention on the Right of the Child, article 6 about survival & development, point out that the child¡¦s inherent right to life; the state should ensure the survival and maximum development of the child. Regarding this article, a conducive enviroment for the child¡¥s development is one of the requirements. We all hope for our children to grow up healthy and happy. We wish them to live in a productive and stimulating life. We expect them to live in an enviroment which save from all kinds of contamination and exploitation.
Every individual has the right to basic health knowledge and health care. The health in a community depends to a very great degree upon whether the citizen are passive or active towards their own health condition. We belief that one of the effort to live in a healthy way is through living in a healthy and unpolluted enviroment, and it can be started through empowering the children to recognize the life style of their surrounding, and that they can participate to make changes really happen. For that, space should be opened for children to be able to see alternative pathways to live. They should have a change to involve in activities with their peers to protect their own health and their own enviroment. Through doing a kind of action research to their local enviroment, children will get pure ecological understanding and how it relates to the health condition of their relevant surrounding.
Local action may lead the children to conclude that the solution to a local enviromental problems lies beyond changes in their own enviromental action and requires them to build network with another group or to raise enviromental awareness and mobilize others

2. Objectives:

1. To grow children¡¦s awareness regarding to their right to enjoy standard of living which enable them to live healthy physically, mentally and socially.
2. To develop awareness regarding the relation ship betwen healthy enviroment condition with pollution¡¦s effect toward their health.
3. To raise children¡¥s awareness that they have right to express their thoughts and feelings through many ways.
4. To establish non-discriminative awareness, inter-gender, religion and ethnic.
5. To build strong confidence on their ability to take a role in socialing the kowledge, understanding and spirit to their peers an the society.

3. Overview

The target of this program is junior high school students in Surabaya and Gresik Municipality. The students were chosen by the teacher to participate in the extracurricular program. The student be chosen by their leadership, big attention to the environment and intelligence. At the first meeting there are 6 students from each school that will attend the students 3 days workshop and after the workshop they have to invite at least 1 friend to join the extracurricular meeting at school. On the next meeting the participants should invite another friend, so the students join the program increase. The students first observe the river and then they be given some knowledge about river ecosystem and its threats then they arrange regular observation to the river condition in the rive investigation. The students then asked to express their knowledge and their hope about the river in any kind of media such as making poetry, letter, paintings, song, etc. that will be presented in cultural exhibition.

Capacity Building through River Investigation

a.  What was innovative in the use of this instrument?
The children will directly make interaction with the river and the people near the river to know the river ecosystem condition and human activity that give impact to the river ecosystem. They trained to conduct water quality monitoring and make assessment on biodiversity of benthic macroinvertebrate. They also investigate the pollution source of the river and how should the pollution source be managed. They have knowledge about environment at earlier stage that will be developed more an more at the next stage of their life so they expected to have bigger awareness to protect their environment at earlier stage.
b. Why and how did this instrument contribute to success?
Most of the student get knowledge about nature only by listening the lecture without directly observe the object they learned and they only imagine about the object since they only use their hearing. The river investigation optimize the use of their senses i.e. hearing, sight, smell and feel the river, They directly can touch and feel the river condition that will make a connection and increase their awareness to protect the river. They can see beautiful birds, amazing insects and human activity that polluted the river and they know that something wrong and they have to say or do something about it.

Capacity Building Through Children Expression of The River

c. What was innovative in the use of this instrument?
This program encourage the children to express their feeling about the environment especially river in any form of media. They can express their knowledge and hope by making song, poetry, paintings, poster, letter to the government and the mass media or they can looking for answer of their curious through doing research.
Why and how did this instrument contribute to success
This children expression will reveal what the children wants about their environment. The children expression about the environment expected to receive more attention from their parents and .the governments. They expression show that they as children are aware to their environment so the adults should be more aware and should support the children wants about their environment.

4. Impact

4.1 Impact to the participants:
1. the children have more understanding and knowledge about their environment form their experience on river investigation and information from program facilitator. They also disperse their knowledge to friends and familiy and ask them to monitor and protect the river
2. creation of river guard team that monitor the river condition and disperse the information to the network between schools
3. the children dare to express what they feel and what they want in a letter to local newspaper and they protest the government policy that give priority to economic development without give appropriate priority to the environmental protection
4. The children try to make effort to protect the environment through implementing activity in an environmental friendly way such as reduce garbage, use the water efficiently, reuse things etc.
4.2. Impact to the schools:
1. Some school still maintain the environment extracurricular after this program had finished
2. The school actively join another environmental program

5. Lessons Learned

some lessons to be learned from this program are.
a. Support from school is important component of this program since this extracurricular activity need special time of the students that might have planned for other school program such as final examination preparation etc.
b. Field interpretation is an effective method for environmental education: The observation to the real environment allow the children to observe, to touch and feel the environment. They can study in the natural laboratory and enjoy to play with friends in their team. They study in a relax condition because they study through nature games and play as detective who make investigation on environmental pollution case,.
c. The education material should be design to be easily understood by the children.Some difficult termination in environmental material should be simplified and described with some examples that the children familiar with. The material also should be limited to assure that all of the information are absorbed by the children. They already have too many lessons they have to study, so this extracurricular activity should not give more burden to the children. They should do more observation and they take lesson from the nature not from the theory.
d. Facilitators play an important role for the success of the programme: Increasing the capacity of facilitators is important, considering the role they play in the programme.
e. Using visualized educating media such as video and posters to give more realistic description to the children

6.Potential for Application

This program could be apply in any school with various topics not limited in river ecosystem. The pressure should be given to direct observation to the natural ecosystem to let the children take lessons from nature to stimulate their curiosity to learn more about the environment.
Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sekolah Menjadi Bagian Solusi Permasalahan Lingkungan

3R (Remind, Redesign, Reorganize) Proses Pembelajaran

PENDIDIKAN INDONESIA

Selama ini, sekolah sebagai tempat pembelajaran yang diharapkan untuk menjadi potensi dalam menciptakan generasi-generasi yang dapat memecahkan masalah-masalah disekitar mereka malahan menjadi tempat menciptakan generasi-generasi sumber masalah baru. Hal ini disebabkan oleh pelaksana pembelajaran sekolah (guru-guru di Indonesia) telah terjadi berubahan makna dari arti pendidikan (educating), hanya menjadi sekedar pengajaran (teaching) dan pelatihan ketrampilan (training-soal dan hard skill). Dunia pendidikan saat ini telah berubah menjadi sebuah industri komerisialis dan pencetak siswa yang pintar menghafal serta menyelesaikan soal-soal mata pelajaran (“cerdas akademis”??). Bukan lagi menjadi tempat pembelajaran siswa untuk membangkitan kesadaran kritis, berfikir kreatif, berfikir secara analisis, berfikir secara integratif, dan memecahkan masalah.

 

Seperti yang telah banyak diberitakan pada beberapa media setelah pengumuman hasil ujian nasional tentang banyaknya siswa yang gagal di Ujian Nasional (UN) karena kesulitan (kalau tidak mau disebut gagal dalam pembelajaran siswa) pada materi berupa soal cerita yang memerlukan ketrampilan analisa dan logika mereka, meskipun siswa-siswa tersebut pada kesehariannya merupakan siswa yang “cerdas akademis.” Ini menimbulkan pertanyaan dalam diri saya, apakah ada yang salah dengan dunia pendidikan kita ?

 

Sekolah-sekolah telah banyak yang tercengkram dengan sistem struktural dan administrasi yang kuat sehingga menciptakan sekolah-sekolah yang memburu kebanggaan semu dengan merasa bangga jika sekolah telah meluluskan 100% siswanya, sekolah telah menyandang sekolah bersertifikat ISO dan bahkan sekolah yang berpredikat Sekolah Bertaraf International-SBI (bagi saya maknanya adalah Sekolah Berbayar Internasional = MAHAL). Apakah salah dengan sekolah yang berburu kebanggaan ini ? Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Akan tetapi hal ini akan membuat jurang pemisah antara kelas khusus dengan kelas biasa yang memisahkan dan membedakan ruang kreatifitas dan pendidikan bagi peserta didik yang berkeadilan secara keji dan mengerikan.

 

Juga masih banyak saya temui guru-guru yang mengajar di sekolah hanya berorientsi buku teks (textbook oriented) agar peserta didik lulus dalam Ujian Nasional (UN), tetapi mengabaikan pengembangan diri peserta didik dan lingkungan sekitar mereka. Apa bedanya sekolah dengan Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) yang ada….?? Pola pendekatan pendidikan yang demikian (textbook oriented) telah “mencerabut” siswa dari lingkungannya dan hanya akan menghasilkan individu yang “cerdas akademis” namun tidak peduli akan keberlanjutan keberadaan dirinya, komunitas masyarakatnya, sistem sosialnya, sistem ekonominya, kebudayaanya, dan lingkungan alamnya. Memang terlihat mudah mengajar dengan cara tersebut, namun apakah mengajar dengan cara tersebut terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efesien bagi guru dan utamanya peserta didik ? Peran guru bukan hanya mentrasfer informasi ke peserta didiknya akan tetapi membimbing dan memotivasi peserta didik untuk menemukan sendiri segala hal dengan informasi atau pengetahuan yang telah mereka miliki.

 

Setiap siswa adalah berbeda, unik dan spesial bahkan untuk anak kembar sekalipun. Setiap manusia belajar dengan cara berbeda karena faktor keturunan, pengalaman, lingkungan atau kepribadiannya. Dalam proses pembelajaran peserta didik, hendaknya guru dapat mengakomodasi segala perbedaan dan kunikan peserta didik sehingga tidak ada peserta didik yang tesisihkan atau tertinggal dalam proses pembelajaran (Guru berperan sebagai Mentor, Kolaborator, Fasilitator, Inspirator dan Reflektor). Ketika guru mengenal perannya dan paham akan peserta didiknya akan memudahkan mereka dalam membuat proses rencana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik.

 

Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang kompleks (Pembelajaran Emotional, Sosial, Kognitif, Fisik dan Reflektif) sehingga guru harus memberikan pembelajaran yang bermakna. Artinya guru harus dapat menghubungkan apa yang dipelajari dengan kegiatan sehari-hari peserta didik dan bagaimana mengajarkannya dengan kehidupan sehari-hari peserta didik dan keluarganya. Dengan sistem pendidikan apapun yang akan dilakukan di Indonesia, ternyata tidak akan hanya cukup dengan banyak memberikan pencerahan dalam menjalankan proses pembelajaran pendidik. Sementara para pendidik Indonesia masih banyak yang duduk manis dibelakang meja dan tidak mau mengembangkan metode-metode pembelajarannya bagi peserta didiknya.

Dalam upaya untuk mengembangkan proses pembelajaran di sekolah dan membantu para pendidik mengembangkan proses pembelajaran ini sebenarnya bola sudah berada ditangan yang sudah terpayungi hukum (permendiknas no. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, No. 23 tentang Standar Kelulusan dan 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi) dan diberi kebebasan dalam proses pembelajarannya. Tetapi apakah para pendidik sudah paham akan hal tersebut, jika belum maka mereka Dzolim terhadap profesi mereka sebagai pendidik.

 

Oleh karena itu kita sebagai pendidik seharusnya dapat mengembangkan potensi peserta didik kita dengan 3 R (Remind, Redesign dan Reorganize) proses pembelajaran kita.

Remind Otonomi Pendidikan, bahwa dengan otonomi pendidikan yang telah diberikan dan mendudukkan satuan pendidikan beserta pendidik, tenaga kependidikan, serta peserta didiknya menjadi subyek yang mandiri, akuntabel, kreatif, inovatif, dan berkewirausahaan.

Redesign KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan): para pendidik diberi ruang yang sangat bebas dalam mengembangkan kurikulum berdasarkan perbedaan potensi peserta didik dan ketersediaan sumber daya di sekitarnya sehingga kurikulum ditiap sekolah dapatlah sangat beragam.

Reorganize Pembelajaran Kontekstual: pengembangan minat, bakat, dan potensi sumber daya di lingkungan sekitar yang akan menjadi faktor penentu tujuan pembelajaran peserta didik. Dimana akan membantu peserta didik untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga peserta didik memiliki pengetahuan/ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi diri sendiri secara aktif pemahamannya yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran berjalan berimbang sekaligus memberikan alternatif solusi permasalahan lingkungan hidup dan pendidikan Indonesia.

 

Dari pengalaman saya beraktifitas dengan pendidik dan peserta didik, banyak pembelajaran yang saya peroleh dari mereka ketika saya menggunakan permasalahan lingkungan sekitar mereka sebagai salah satu media pembelajaran, beberapa diantaranya;

Membuat siswa dan pendidik lebih antusias dan inovatif,

Permasalahan lingkungan sekitar sekolah sebenarnya telah menawarkan cara memperkaya bagi siswa dan guru untuk menghubungkan apresiasi mereka dari lingkungan untuk proses pembelajarannya. Karena siswa dan pendidik sangat paham akan kondisi lingkungan sekitar mereka, maka siswa akan mudah tertarik serta antusias dalam proses belajar yang akhirnya mereka termotivasi untuk prestasi akademis mereka. Sedangkan untuk pendidik juga lebih antusias tentang bahan ajaran mereka serta membawa strategi pembelajaran yang lebih inovatif ke dalam kelas yang akhirnya dapat mencetak generasi-generasi yang lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Membuat sekolah menjadi bagian solusi permasalahan global,

Siswa dan pendidik memiliki kesempatan setiap hari untuk mengasah kemampuannya dalam memecahkan masalah lingkungan disekitarnya dan menggunakannya sebagai laboratorium pembelajaran interdisiplin. Kondisi ini memungkinkan terjadinya proses berpikir kritis dan analisis siswa yang meletakkan dasar untuk membangun keterampilan dalam pemecahan masalah serta memahami tantangan dunia nyata. Kondisi ini juga memungkinkan pilihan siswa untuk berperan aktif dalam masalah tertentu yang harus dipecahkan serta membantu dalam membuat hubungan dan membina kelompok belajar mandiri dan kooperatif. Sebagai contoh, SMAN 1 Wringinanom (Kompas, 31 Desember 2009) meluangkan waktu untuk menggunakan permasalahan sungai Surabaya sebagai topik pilihan mereka. Dari merancang sebuah kegiatan untuk adopsi bantaran, memantau sungai sampai tentang dokter sungai yang baru-baru ini Sumarlina (siswi SMAN 1 Wringinanom) mendapat penghargaan dari bapak Emil Salim (Kompas, 25 Oktober 2010)

 

Pada akhirnya kita harus mulai mengembalikan makna pendidikan itu sendiri bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir, daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki peserta didik. Perubahan pada guru dalam proses pembelajaran adalah kunci agar keterpurukan generasi yang dimiliki bangsa ini tidak berlanjut dan menjadikan Indonesia dapat berdiri dengan kaki sendiri diatas negara yang bergelimang sumber daya alam berlimpah ini.

Andreas Agus Kristanto Nugroho

Education and Resarch Program


 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Informasi YMC

Kami bersama Ashoka meyakini bahwa setiap orang adalah pembawa perubahan. Peran kaum muda dalam proses perubahan sosial merupakan salah satu komponen penting yang tidak dapat diabaikan. Sejak tahun 2005 Ashoka Indonesia mengembangkan program Youth Social Entrepreneurship–Ashoka Young Changemakers yang bertujuan untuk mendorong lahirnya lebih banyak pembaharu sosial muda.

Tahun 2010 ini, bekerjasama dengan lembaga Hivos dan juga banyak lembaga mitra yang memiliki visi dan misi memberdayakan kaum muda, Ashoka memusatkan dukungan kepada Young Changemaker Indonesia dalam bidang Hak Azasi Manusia. Dengan harapan dapat melahirkan generasi muda Indonesia yang mampu mengatasi permasalahan kesetaraan Hak Azasi Manusia yang dihadapi masyarakat serta sistem yang mendukung mereka.

Upaya membuka peluang kaum muda untuk bisa terus berkarya dilakukan program Young Changemakers melalui rangkaian kegiatan, sebagai berikut:

  1. Training of Young Changemakers (ToYCM) Ashoka “Dream it Do it” Workshop (April – Mei 2010)

Pelatihan awal untuk mengenalkan program Young Changemakers Ashoka dan Social Entrepreneurship di lembaga/sekolah sasaran. Pelatihan ini diharapkan mengikutsertakan 10-15 orang siswa calon peserta program   Young Changemakers.

  1. Fasilitasi Young Changemakers (Mei – Juni 2010)

Diselenggarakan oleh masing-masing lembaga mitra di kelompok kaum muda dampingan dan sekolah jaringannya.

  1. Implementasi dan Pelaporan (Juni-November 2010)

Mengimplementasikan ’social venture’ dalam rentang waktu yang ditentukan. Memberikan laporan kepada Ashoka Indonesia mengenai perkembangan ’social venture’ dalam bentuk narasi dan dokumentasi visual.

  1. Seleksi Panel (pertengahan November 2010)

Keputusan akhir ditentukan melalui seleksi panel dimana peserta berkesempatan untuk mempresentasikan kegiatan dan perkembangannya kepada 3 panelis perwakilan dari Ashoka Indonesia, Ashoka Fellow, Hivos.

  1. Pelatihan Creative Resourcing dan Induction Ceremony (10 Desember 2010)

Mengikuti pelatihan nasional dan pengukuhan menjadi bagian komunitas Young Changemakers global dan mengikuti ceremony penganugerahan Award tingkat nasional.

Sekian tawaran ini kami sampaikan. Semoga kemitraan ini bisa menumbuhkan lebih banyak lagi kaum muda yang membawa perubahan lebih besar lagi bagi masyarakat. Informasi mengenai program Young
Changemakers secara umum bisa dilihat di www.ashoka.or.id/ycm.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar